Mengenal Jalur Sutra dan Sejarahnya

0
21

SeriusGue.com – Jalan Sutra (Silk Road) adalah sebuah rute / jalur perdagangan yang secara resmi didirikan selama Dinasti Han (Cina) yang menghubungkan antara wilayah negara-negara kuno dalam sejarah perdagangan internasional. Terbentang sejauh 7400 kilometer dan bisa di tempuh sekitar setengah tahun perjalanan pada waktu itu. Kita sebagai pelajar pasti pernah mendengar dan mempelajari sepenggal sejarah tentang Jalur sutra. Jalur Sutra bukanlah sebuah jalan raya tunggal dari timur ke barat. Istilah ‘jalur sutra’ menjadi populer karena nama itu yang lebih umum dikenal dan diakui oleh para sejarawan. Istilah untuk jalur ini diciptakan pertama kalinya oleh ahli geografi Jerman sekaligus wisatawan yang bernama Ferdinand von Richthofen pada tahun 1877SM yang awalnya dinamakan ‘Seidenstrasse’ (silk road) atau ‘Seidenstrassen’ (silk rute). Jaringan perdagangan di sepanjang jalur sutra digunakan secara teratur dari abad 130 SM. Jalur ini lebih dari sekedar jalur barang dan komoditas yang berharga lainnya, namun gerakan konstan dan pencampuran populasi yang menyebakan transmisi pengetahuan, ide, budaya dan keyakinan memiliki dampak yang mendalam pada sejarah dan peradaban bangsa-bangsa Eurasia. Wisatawan sepanjang Jalan Sutra tertarik tidak hanya dengan konteks perdagangan saja, tetapi juga oleh pertukaran intelektual dan budaya yang terjadi di kota-kota di sepanjang Jalur Sutra yang berkembang menjadi hubungan budaya dan menjadi pembelajaran. Ilmu pengetahuan, seni dan sastra, serta kerajinan dan teknologi yang demikian rupa dibagi dan disebarluaskan ke masyarakat di sepanjang panjang rute-rute ini. Dan dengan cara ini, bahasa, agama dan budaya sangat cepat perkembangkannya dan saling mempengaruhi antara satu sama lain.

Jalur-sutra-luksan

Nama jalur sutra pada awalnya diambil dari komoditi tekstil sutra asal Cina kuno, tenunan dari serat protein yang dihasilkan oleh ulat sutra dari kepompongnya dan dikembangkan menurut tradisi Cina sekitar tahun 2700 SM. Dianggap sebagai produk yang bernilai sangat tinggi yang produksinya disediakan untuk penggunaan eksklusif dari istana kekaisaran Cina untuk pembuatan kain, tirai, spanduk, dan item prestise lainnya. Produksinya dirahasiakan dan dijaga di China selama sekitar 3.000 tahun, dengan keputusan hukuman mati kepada siapa pun yang membocorkan proses produksinya ketangan asing. Sutra juga sering digunakan sebagai hadiah diplomatik dan juga diperdagangkan secara luas dengan tetangga dekat wilayah china, dan kemudian lebih jauh dan menjadi salah satu ekspor utama China di bawah dinasti Han (206 SM -220 AD).
Jalur sutra menjadi dasar dalam penyebaran agama dan budaya di sepanjang wilayah Eurasia. Buddhisme adalah salah satu contoh dari agama yang dibawa dijalur ini, dengan seni Buddha dan kuil-kuil yang ditemukan terpisah sepanjang wilayah Bamiyan di Afghanistan, Gunung Wutai di China, dan Borobudur di Indonesia. Kristen, Islam, Hindu, Zoroastrianisme dan Manicheism menyebar dengan cara yang sama, seperti wisatawan yang menyerap budaya yang mereka temui dan kemudian membawa mereka kembali ke tanah air mereka. Jadi, misalnya, Hindu dan kemudian Islam diperkenalkan ke Indonesia dan Malaysia oleh para pedagang jalur sutra melalui rute perdagangan maritim dari India dan Arab.

Sejarah dan Tradisi
Sejarah awal
Periode Arab
Periode Mongolia
Budaya perdagangan

Rute Jalur Sutra
Barang yang di perdagangkan
Pertukaran Budaya
Pengembangan Jalur Sutra

Negara-Negara Di Sepanjang Jalur Sutra
CHINA
KHAZAKHSTAN
KYRGYZSTAN
TAJIKISTAN
UZBEKISTAN

TURKMENISTAN
AZERBAIJAN
GEORGIA DAN KAUSKASUS UTARA
IRAN
MALAKA/NUSANTARA

Sejarah Dan Tradisi

Nama jalur sutra pada awalnya diambil dari komoditi tekstil sutra asal Cina kuno, tenunan dari serat protein yang dihasilkan oleh ulat sutra dari kepompongnya dan dikembangkan menurut tradisi Cina sekitar tahun 2700 SM. Dianggap sebagai produk yang bernilai sangat tinggi yang produksinya disediakan untuk penggunaan eksklusif dari istana kekaisaran Cina untuk pembuatan kain, tirai, spanduk, dan item prestise lainnya. Produksinya dirahasiakan dan dijaga di China selama sekitar 3.000 tahun, dengan keputusan hukuman mati kepada siapa pun yang membocorkan proses produksinya ketangan asing. Sutra juga sering digunakan sebagai hadiah diplomatik dan juga diperdagangkan secara luas dengan tetangga dekat wilayah china, dan kemudian lebih jauh dan menjadi salah satu ekspor utama China di bawah dinasti Han(206 SM-220 AD). Jalur sutra juga menjadi dasar dalam penyebaran agama dan budaya di sepanjang wilayah Eurasia. Buddhisme adalah salah satu contoh dari agama yang dibawa dijalur ini, dengan seni Buddha dan kuil-kuil yang ditemukan terpisah sepanjang wilayah Bamiyan di Afghanistan, Gunung Wutai di China, dan Borobudur di Indonesia. Kristen, Islam, Hindu, Zoroastrianisme dan Manicheism menyebar dengan cara yang sama, seperti wisatawan yang menyerap budaya yang mereka temui dan kemudian membawa mereka kembali ke negara mereka. Misalnya, Hindu dan kemudian Islam diperkenalkan ke Indonesia dan Malaysia nusantara pada waktu itu oleh para pedagang jalur sutra melalui rute perdagangan maritim dari India dan Arab. Nama Jalur Sutra tidak pernah ditemukan dalam catatan sejarah Tiongkok. Istilah 'jalur sutra' pertama kali digunakan oleh Ferdinand von Richthofen geografer asal Jerman pada abad ke-19.Jalur ini dikenal sebagai jalur perdagangan melalui Asia yang menghubungkan antara Timur dan Barat yang digunakan oleh para pedagang, pengelana, biarawan, prajurit, nomaden dengan menggunakan karavan dan kapal laut, dan menghubungkan Chang'an (Tiongkok), dengan Antiokhia, Suriah, dan juga tempat lainnya pada waktu yang bervariasi sebagai jalur pertukaran komoditi, kebudayaan dan agama. Pertukaran ini sangat penting tak hanya untuk pengembangan kebudayaan Cina, India dan Roma namun juga sebagai tonggak dasar dari perdagangan dunia modern. Jalur yang membentang dari Tiongkok hingga Romawi ini memiliki panjang berkisar 6.000 km. Jalur Sutra sendiri merupakan jalur yang tidak memiliki lintasan berupa jalan besar, melainkan jalur yang bercabang-cabang dan hanya bisa dilewati kuda , binatang terbak dan karavan. Jalur Sutra juga tidak hanya dikenal dengan jalur yang memiliki peran dalam bidang ekonomi, namun juga dalam bidang. Rute Jalur Sutra dimulai dari Chang‟an (Xian) di China melewati kota-kota perdagangan di Asia Tengah dan berakhir di Antiokia atau Konstantinopel(Istanbul).
Dalam sejarah Jalur Sutra, Islam perlahan-lahan berhasil menjadi agama yang paling berpengaruh. Di awal sejarah Islam, agama ini memang dikenal sebagai ‘agama Arab’. Tapi ini berubah ketika kaum Muslim Arab mulai melakukan perluasan wilayah, termasuk ke wilayah yang dikuasai Bizantium dan Persia. Seiring dengan kian luasnya daerah yang dikuasai Muslim, semakin aktif pula kegiatan perdagangan yang dijalankan oleh para saudagar Muslim di daerah-daerah baru ini. Harus diingat, perdagangan adalah profesi yang mendapat tempat istimewa dalam Islam. Nabi Muhammad sendiri adalah seorang saudagar yang pernah berdagang hingga ke Suriah sementara di dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang mendorong aktivitas perniagaan. Para saudagar Muslim yang berniaga hingga ke luar Arab menarik para pedagang lokal untuk masuk Islam. Para pedagang ini kemudian mendapatkan posisi dominan di bidang perdagangan di Jalur Sutra bagian barat. Tersebarnya para pedagang Muslim di sepanjang Jalur Sutra berarti semakin luasnya jaringan perdagangan mereka. Pemerintahan Islam yang muncul di luar Arab juga turut memperkuat eksistensi saudagar Muslim karena mereka memberi perlindungan dan fasilitas untuk saudara seagama mereka ini. Sejarawan R Foltz (2010) Menyebut Meningkatnya Peran Islam Di Jalur Sutra Sebagai ‘Islamisasi Jalur Sutra’. Menurut Dia, Setidaknya Ada Tiga Faktor Yang Mendorong Terjadinya Islamisasi Ini. Pertama, kekuasaan politik Muslim yang kian luas hingga ke Asia Tengah mendorong masyarakat setempat untuk menerima norma dan nilai yang dibawa Islam. Kedua, asimilasi. Ketiga, dominasi perdagangan kaum Muslim. Melalui jalur perdagangan dari arah Asia Barat ini terjadilah Islamisasi besar-besaran di kawasan perkotaan di mana terjadi transaksi perdagangan di berbagai level. Ini terutama sekali terjadi di kalangan suku Turkik (antara lain mencakup orang Turki, Kazakh, Uzbek dan Uighur) di Asia Tengah dan Asia Dalam. Eksistensi pedagang Muslim tidak hanya di bagian barat Jalur Sutra, tapi juga di bagian timurnya. Pada pertengahan abad 8 M, mereka sudah berdagang hingga ke berbagai kota di Cina. Kala itu, Cina dikuasai oleh Dinasti Tang. Selain berdagang, para pedagang perantau beragama Islam ini juga membantu Dinasti Tang dalam menghadapi pemberontakan lokal. Sebagai balasannya, mereka diberi tanah dan kesempatan ekonomi lainnya oleh kaisar. Pada masa ini, Muslim terkonsentrasi di Provinsi Guangdong dan Quanzhou. Di antara mereka ada yang memutuskan untuk menetap di sana. Para pedagang ini menikahi wanita setempat dan membesarkan anak-anak mereka secara Islam. Alhasil, lahirlah sebuah komunitas Muslim di Cina, yang dikenal dengan etnis Hui. Menariknya, selain tersebarnya ajaran Islam di sepanjang Jalur Sutra, para pedagang Muslim juga dikenal dengan dua komoditas utama mereka. Pertama, barang-barang porselen berwarna biru dan putih. Kedua, musik. Para sufi Muslim kerap mengadakan pertunjukan di kedai teh atau pasar di berbagai tempat di sepanjang jalur sutra. Mereka bernyanyi dengan diiringi berbagai alat musik. Dari sana lahirlah apresiasi dari para pendengarnya terhadap kekayaan khazanah seni Muslim. Para sufi ini sendiri, dengan kisah relijius dan nyanyian yang mereka bawa, berhasil mendapatkan pengaruh baru, mengalahkan pengaruh yang sebelumnya dipegang oleh para dukun lokal. Di sisi lain, selain perdagangan, di Jalur Sutra masa silam itu ada aktivitas lain yang menghubungkan orang dari berbagai latar belakang berbeda, yakni penyebaran dan pertukaran kebudayaan dan agama. Dengan Kata Lain, Bila Jalur Sutra Abad 21 Berpijak Pada Prinsip Top-Down (Dikelola Negara) Maka Jalur Sutra Di Masa Lalu Berlandaskan Prinsip Bottom-Up (Dihidupkan Oleh Masyarakat). Penting diketahui pula bahwa pergerakan yang dominan di Jalur Sutra lama adalah dari Eurasia bagian barat ke Asia Timur, sementara kini Cina di Asia Timur menjadi titik pangkal pergerakan dana, fasilitas, sumber daya manusia dan komoditas untuk Jalur Sutra abad 21. Di luar itu, ada satu kemiripan di antara Jalur Sutra lama dan Jalur Sutra abad 21, yakni arti penting Islam baik sebagai agama maupun tradisi yang eksis di berbagai wilayah di Asia. Namun, sementara peran Islam di sepanjang satu setengah milenium sejarah Jalur Sutra sudah terekam dan diakui, kita masih perlu menunggu dan mengamati apakah Islam kembali menjadi faktor signifikan dalam Jalur Sutra abad 21.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here